{"id":661,"date":"2020-01-28T03:09:22","date_gmt":"2020-01-28T03:09:22","guid":{"rendered":"https:\/\/stftjakarta.ac.id\/?page_id=661"},"modified":"2020-03-06T03:22:01","modified_gmt":"2020-03-06T03:22:01","slug":"pusat-kajian-mediasi-dan-rekonsiliasi","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/stftjakarta.ac.id\/?page_id=661","title":{"rendered":"Pusat Kajian Mediasi dan Rekonsiliasi"},"content":{"rendered":"\n<ul class=\"wp-block-gallery columns-3 is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\"><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"640\" height=\"298\" src=\"https:\/\/stftjakarta.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/PPMR_STT_13-08-2011-vga_0.jpg\" alt=\"\" data-id=\"662\" data-link=\"https:\/\/stftjakarta.ac.id\/?attachment_id=662\" class=\"wp-image-662\" srcset=\"https:\/\/stftjakarta.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/PPMR_STT_13-08-2011-vga_0.jpg 640w, https:\/\/stftjakarta.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/PPMR_STT_13-08-2011-vga_0-300x140.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"440\" height=\"240\" src=\"https:\/\/stftjakarta.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/ppmr3-1.jpg\" alt=\"\" data-id=\"663\" data-link=\"https:\/\/stftjakarta.ac.id\/?attachment_id=663\" class=\"wp-image-663\" srcset=\"https:\/\/stftjakarta.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/ppmr3-1.jpg 440w, https:\/\/stftjakarta.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/ppmr3-1-300x164.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 440px) 100vw, 440px\" \/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"440\" height=\"240\" src=\"https:\/\/stftjakarta.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/ppmr2-1.jpg\" alt=\"\" data-id=\"664\" data-link=\"https:\/\/stftjakarta.ac.id\/?attachment_id=664\" class=\"wp-image-664\" srcset=\"https:\/\/stftjakarta.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/ppmr2-1.jpg 440w, https:\/\/stftjakarta.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/ppmr2-1-300x164.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 440px) 100vw, 440px\" \/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"440\" height=\"240\" src=\"https:\/\/stftjakarta.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/ppmr1-1.jpg\" alt=\"\" data-id=\"665\" data-link=\"https:\/\/stftjakarta.ac.id\/?attachment_id=665\" class=\"wp-image-665\" srcset=\"https:\/\/stftjakarta.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/ppmr1-1.jpg 440w, https:\/\/stftjakarta.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/ppmr1-1-300x164.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 440px) 100vw, 440px\" \/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"708\" src=\"https:\/\/stftjakarta.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/ppmr7-1-1024x708.jpg\" alt=\"\" data-id=\"666\" data-link=\"https:\/\/stftjakarta.ac.id\/?attachment_id=666\" class=\"wp-image-666\" srcset=\"https:\/\/stftjakarta.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/ppmr7-1-1024x708.jpg 1024w, https:\/\/stftjakarta.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/ppmr7-1-300x208.jpg 300w, https:\/\/stftjakarta.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/ppmr7-1-768x531.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption>Pelatihan Mediasi dan Rekonsiliasi<\/figcaption><\/figure><\/li><\/ul>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>Latar Belakang<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li>Kenyataan bahwa gereja-gereja di Indonesia menghadapi beragam konflik, baik internal maupun eksternal.<\/li><li>Kenyataan bahwa gereja-gereja di Indonesia tidak selalu cakap  mengelola konflik yang dihadapi dan menjadikan konflik sebagai  kesempatan bagi perubahan positif, bahkan sering membiarkan konflik itu  \u2018diselesaikan\u2019 oleh waktu.<\/li><li>Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta (STFT Jakarta) telah beberapa tahun  menyelenggarakan lokakarya \u201cTransformasi Konflik &amp; Pemberdayaan  untuk Rekonsiliasi\u201d dan adanya desakan agar program serupa dikembangkan  untuk jemaat dan atau warga gereja sebagai bagian dari program  pengabdian masyarakat STFT Jakarta.<\/li><li>Pentingnya mengorganisir para alumni lokakarya \u201cTransformasi Konflik  &amp; Pemberdayaan untuk Rekonsiliasi\u201d yang cukup banyak dan potesial  sebagai relawan (<em>volunteer<\/em>) untuk pengembangan gereja dalam kemampuan mengelola konflik.<\/li><li>Perlunya sebuah lembaga yang mengembangkan program untuk membantu  gereja-gereja dan lembaga-lembaga gerejawi dalam membangun kecakapan  diri untuk mentransformasikan konflik dengan cara damai dan berlandaskan  nilai-nilai kristiani.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u2018<em>Pusat<\/em>\u2019, karena lembaga ini lebih sebagai simpul (titik  temu) berbagai pihak dalam jaringan yang berkeinginan agar gereja-gereja  tumbuh dalam kemampuannya mengelola konflik. Sebagai pusat, lembaga ini  merupakan juga simpul untuk konsolidasi partisipasi dan sumber daya  dari jaringan dalam keragaman kapasitas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>\u2018Kajian\u2019<\/em> karena lembaga ini dikembangkan sebagai  sarana belajar aktif dan reflektif bagi berbagai pihak dalam  pengembangan kecakapan pengelolaan konflik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>\u2018Mediasi\u2019 <\/em>sebagai salah satu pendekatan  pengelolaan konflik, dipilih karena berfokus pada proses mediasi dan pemberdayaan. Dampak pemberdayaan itu membangun kemampuan individu dan komunitas, untuk memediasi konflik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u2018<em>Rekonsiliasi\u2019 <\/em> merupakan proses yang penting dilakukan untuk  mewujudkan transformasi, sehingga penyelesaian konflik menjadi berkat  yang disyukuri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penyebutan Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta, karena Pusat Pembelajaran ini berada dalam lingkup pelayanan STFT Jakarta.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>Visi<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Pusat yang mengintegrasikan berbagai disiplin dan atau rumpun studi \nsecara maksimal untuk memperkaya model-model atau pendekatan dalam \nmediasi dan rekonsiliasi.<\/li><li>Pusat yang berkontribusi dalam membangun komunitas berbasis iman (<em>faith based community) <\/em>yang\n mampu menerjemahkan nilai-nilai religius melalui pengelolaan dan \ntransformasi konflik sebagai sarana pertumbuhan kehidupan komunitas yang\n visioner.<\/li><li>Pusat yang berpartisipasi dalam mengelola dan mentransformasikan konflik-konflik komunitas berbasis iman (<em>faith based community\/FBC<\/em>).<\/li><\/ul>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>Misi<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Mengembangkan komunikasi dengan FBC dan lembaga lainnya, dengan cara menginformasikan kehadiran Pusat pelayanan ini<\/li><li>Belajar bekerjasama dengan FBC dan lembaga lainnya dalam rangka \nmendokumentasikan kasus-kasus dan atau menuliskan ulang kasus-kasus \ntersebut dalam format yang dapat digunakan untuk proses pelatihan dan \npembelajaran.<\/li><li>Membantu FBC dan lembaga lainnya dengan menyelenggarakan lokakarya dan pelatihan mediasi serta rekonsiliasi.<\/li><li>Membantu\/berpartisipasi dalam mengelola dan mentransformasikan konflik-konflik komunitas berbasis iman (<em>faith based community<\/em>).<\/li><li>Mengembangkan jejaring (<em>networking<\/em>) dengan lembaga-lembaga sejenis, baik di dalam negri maupun di luar negeri.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Organisasi<br><\/strong><em>Ketua<\/em>: <a href=\"https:\/\/stftjakarta.ac.id\/person\/pdt-mulyadi-d-min\/\">Mulyadi, D.Min.<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Kelompok Kerja<\/em>: Dr. Kadarmanto Hardjowasito, Sabar Subekti, Didik C. Adhi Cahyana, Ali  Kohar, Hidayat, dan \u201cteman-teman dari jaringan.\u201d Beberapa orang (5-15  orang) yang bersama Pengurus Harian\/Inti merancang program tahunan, dan  secara rutin memberi masukan pada Pengurus Harian untuk pengembangan  program. Pokja ini bisa dibagi pada tiga fokus: (a) pengembangan  bentuk-bentuk <em>workshop <\/em>dan pelatihan, (b) pengembangan dokumentasi kasus-kasus, (c) pengembangan prakarsa pedamaian dan mediasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Jaringan relawan<\/em>: berbagai pihak, termasuk para alumni  lokakarya \u201cPemberdayaan Untuk Rekonsiliasi,\u201d dengan aneka ragam  kapasitas yang berpartisipasi untuk pengembangan program ini.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Program<\/h4>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Workshop: (a) tersedia materi dan model yang telah dikembangkan bersama mitra-mitra kerja, al.l.: <em>Plowshares Institute<\/em>, Hartfort, Connecticut, Amerika Serikat; <em>Center For Conflict Resolution<\/em>,\n Cape Town, Afrika Selatan; dan Pusat Pemberdayaan untuk Rekonsiliasi \ndan Perdamaian (PPRP), (b) pengembangan materi lokal yang terus \nbertambah, dan kasus-kasus lokal yang juga diperkaya dari STT Jakarta, \ndari Gereja-gereja mitra dan pendukung STT Jakarta, dan pengembangan \nmateri serta kasus-kasus oleh sejumlah alumni PPRP, (c) perlu \npengembangan model pelatihan beserta materinya untuk proses pelatihan \npendek ( \u00bd &#8211; 1 hari) yang bersifat pengenalan program, (d) pengembangan \nworkshop untuk pemberdayaan para pihak dalam proses mediasi dan atau \nnegosiasi yang efektif, (e) aktif dan berpartisipasi dalam <em>Association of Case Teaching<\/em> (ACT).<\/li><li>Dokumentasi konflik dan pengelolaan konflik pada umumnya sangat \nterbatas, sehingga pengembangan kasus juga terhambat. Kemungkinan karena\n dokumentasi kasus konflik dipandang sebagai \u201ccatatan sejarah yang \nkelam.\u201d Perlu upaya merintis dokumentasi konflik yang difokuskan untuk \nkepentingan studi dan\/atau pembelajaran bagi berbagai pihak, dan bukan \nmendokumentasikan \u201ccatatan hitam.\u201d<\/li><li>Mengambil inisiatif (menggagas) perdamaian dan menjadi mediator \nmerupakan program yang tidak mudah, karena menyangkut relasi dan \nkepercayaan para pihak. Dalam konteks ini, pusat studi minimal dapat \nmenjadi \u201ckawan berdiskusi\u201d kalau bukan <em>advisor<\/em> untuk mereka yang dipercaya sebagai mediator atau pihak-pihak yang ingin serius berproses.<\/li><\/ul>\n\n\n<p><!--EndFragment--><br \/><br \/><\/p>\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Center for Mediation and Reconciliation Study<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>Background<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li>Churches in Indonesia face a variety of conflicts, both internal and external.<\/li><li>Churches in Indonesia are not always competent in managing conflict \nthey face and in using conflict as opportunities for positive change to \nhappen, even leaving conflict to be in the hopes that it will work \nitself out over time.<\/li><li>For several years now, Jakarta Theological Seminary has held \nworkshops in \u201cConflict Transformation &amp; Empowering for \nReconciliation\u201d and in turn has received encouragement to further \ndevelop the program to be delivered to the congregation and general \ncommunity as part of Seminary\u2019s community service program.<\/li><li>The importance of organizing the large number of alumni of these \nworkshops and utilizing their potential as volunteers for developing the\n Churches\u2019 and communities&#8217; capacity in managing conflict.<\/li><li>The need for an institution that develops programs to assist \nchurches and church institutions in developing competence to transform \nconflict through peaceful means, founded in Christian values.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>Organisational Standing<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">As an autonomous institution under the umbrella of Jakarta Theological Seminary and accountable to Jakarta Theological Seminary.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Office<\/strong>: Jakarta Theological Seminary campus, Jl. Proklamasi 27, Jakarta Pusat (10320)<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>Rationale behind the Name:<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u2018<em>Center\u2019<\/em> because this institution functions as a meeting \npoint for diverse parties within the network of those desiring for \nchurches to grow in their ability to manage conflict. As a center, this \ninstitution acts as a joint\/meeting point where participation and \nresources are consolidated from the network in diverse capacities.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em> \u2018Study\u2019 <\/em>because this institution has been developed as a \ntool for active and reflective learning &#8211; as well as practical trainings\n for various groups in developing competencies for conflict management.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em> \u2018Conflict Transformation\u2019 <\/em>as one of the approaches to \nconflict management, chosen as a result of its focus on empowerment \nprocesses. The effect of empowering others builds individual and \ncommunity capacity to transform conflict within and without.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em> \u2018Reconciliation\u2019<\/em> is a process that is necessary to format the fruit of transformation so that a resolution of the conflict can be celebrated.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">The mention of Jakarta Theological Seminary is because this Study Center is part of the ministry of JTS.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>Vision<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>To be a center that integrates multiple disciplines and\/or a family \nof related studies is the maximum way to enrich models and approaches \nfor to mediation and reconciliation.<\/li><li>To be a center that contributes in building faith-based community \n(FBC) that is capable of translating religious values through managing \nand transforming conflict as a method of developing a visionary \ncommunity life.<\/li><li>To be a center that participates in managing and transforming FBC conflicts.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>Mission<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>To improve communication between FBC and other institutions, by informing communities of the presence of this Center.<\/li><li>To learn to collaborate with FBC and other intuitions in documenting\n cases and\/or rewriting those cases in a format that is compatible to \nthe purpose of training and learning programs.<\/li><li>To assist FBC and other institutions in organizing workshops and trainings in mediation and reconciliation.<\/li><li>To help\/participate in managing and transforming conflicts of FBCs and community in general.<\/li><li>To develop networks with similar institutions, both in country, as well as and overseas.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kegiatan\/Program:\u00a0Menyelenggarakan  lokakarya \u201cTransformasi Konflik &amp; Pemberdayaan untuk Rekonsiliasi\u201d  bagi FBC dan lembaga lain (dan mengembangkan berbagai jenis workshop  yang diperlukan, mengembangkan model lokakarya yang efektif,  pengembangan berbagai sarana untuk proses-proses pemberdayaan:  metode-metode, penulisan kasus-kasus lokal, dan materi-materi lainnya). Membentuk pusat literatur dan dokumentasi konflik dan penyelesaian  konflik dalam FBC dan lembaga lainnya sebagai kajian dan sarana  pembelajaran. Mengkoordinasikan para \u201erelawan perdamaian\u201c yang sudah terlatih dan  memiliki kompetensi agar dapat melayani kebutuhan akan transformasi  konflik dalam FBC dan lembaga lainnya secara lebih efektif. Mengambil inisiatif untuk proses perdamaian pada konflik-konflik dalam FBC atau komunitas lainnya. <\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>Programs<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li>Facilitating workshops on \u201cConflict Transformation &amp; Empowerment\n for Reconciliation\u201d for FBC and other institutions, to develop a \nvarieties of workshops designed based on the present needs, to develop \neffective workshop models for particular settings, and to develop a \nvariety of means for empowerment process including: methods, local case \nwriting and other materials.<\/li><li>To develop a rich collection of literature documenting conflicts and\n their resolutions for FBC and other institutions so that it acts as a \nresource center and learning facility.<\/li><li>Coordinating &#8220;peacebuilding volunteers\u201c that are already trained and\n equipped with certain skills and competencies so they can effectively \nserve the need for conflict transformationwithin FBC and other \ninstitutions and communities.<\/li><li>To take initiative in peacebuilding processes within FBC or other communities in conflicts.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br> Organisational Roles and Responsibilities<br> <strong><em>Chair\/Team Leader<\/em><\/strong>: <a href=\"https:\/\/stftjakarta.ac.id\/person\/pdt-mulyadi-d-min\/\">Mulyadi, D.Min.<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong><em>Working Group<\/em><\/strong>: Dr. Kadarmanto Hardjowasito, Sabar Subekti, Didik  Christian A. Cahyono, Ali Kohar, Hidayat, and \u201cfriends within the  network.\u201d A number of members (5-15 people), who together with the Core  Team Members plan and design the annual programs and who routinely meet  as a team to provide feedback to the Core Team Members in developing the  programs. This working group has three areas of focus: (a) developing  workshops and trainings, (b) building a documentation of cases  collecting from different part of Indonesia, rewriting the cases, and  adding with teaching notes, (c) and developing new initiatives in  peacebuilding and mediation.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong><em>Network of Volunteers<\/em><\/strong>: various parties, including workshop\/training alumni, within their various capacities to develop this program.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Notes about the Program<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Workshop: (a) availability of materials and models that have been developed together with partners, including <strong><em>Plowshares Institute<\/em><\/strong>, Hartford, Connecticut, USA; <strong><em>Center For Conflict Resolution<\/em><\/strong>, Cape Town, South Africa; and the <strong>Center for Empowerment for Reconciliation and Peacebuilding<\/strong>\/ <em>Pusat Pemberdayaan untuk Rekonsiliasi dan Perdamaian (PPRP)<\/em>;\n (b) continual development of additional local materials, local case \nstudies that originate from Jakarta Theological Seminar, partnering \nChurches and supporters of JTS, and those developed by PPRP alumni; (c) \nthe need to develop training models and its materials to process short \n(half to one day) introductory training programs; (d) to develop \nworkshops that empower relevant parties for effective mediation and\/or \nnegotiation processes; (e) participate in the <strong><em>Association of Case Teaching<\/em><\/strong>(ACT).<\/li><li>Documenting conflicts and conflict management is generally very \nlimited, so it slows down or becomes a barrier to developing case \nstudies, possibly because documenting conflicts is understood as \n\u201cdocumenting unwanted history.\u201d Attempts are needed to pioneer a \nmovement of documenting conflict that is focused on the importance of \nstudy\/academics and\/or learning for and form various parties, and not as\n documentations of \u201cdark unwanted history\u201d.<\/li><li>To initiate (startup) peacebuilding movements and to become \nmediators is not an easy program to run because this involves \nrelationships and developing the trust of various parties. In this \ncontext, the Center minimally can be a \u201cdiscussion partner\u201d if not an \n&#8220;advisor&#8221; for those who are entrusted to be mediators or for intentional\n parties wanting to process.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> Hubungi Kami:&nbsp;Kontak: mulyadi@stftjakarta.ac.id<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Latar Belakang Kenyataan bahwa gereja-gereja di Indonesia menghadapi beragam konflik, baik internal maupun eksternal. Kenyataan bahwa gereja-gereja di Indonesia tidak selalu cakap mengelola konflik yang dihadapi dan menjadikan konflik sebagai kesempatan bagi perubahan positif, bahkan sering membiarkan konflik itu \u2018diselesaikan\u2019 oleh waktu. Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta (STFT Jakarta) telah beberapa tahun menyelenggarakan lokakarya \u201cTransformasi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"parent":655,"menu_order":3,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","template":"","meta":{"content-type":"","footnotes":""},"class_list":["post-661","page","type-page","status-publish","hentry"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/stftjakarta.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/661","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/stftjakarta.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/stftjakarta.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stftjakarta.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stftjakarta.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=661"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/stftjakarta.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/661\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1132,"href":"https:\/\/stftjakarta.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/661\/revisions\/1132"}],"up":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stftjakarta.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/655"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/stftjakarta.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=661"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}